Ketika dimulai gelar piala Thomas dan Uber di Jakarta, ada semacam rasa nasionalisme yang menjalar di tengah-tengah masyarakat. Ribuan orang datang ke Istora Senayan, mereka mengantri dan membeli tiket demi membela tim yang memperjuangkan Merah Putih di tengah lapangan. Ribuan lagi mengantri tak kebagian tiket dan sangat masgul hatinya, karena tak bisa mendukung tim Indonesia.
Di dalam gedung teriakan-teriakan begitu heroik dan menggetarkan. "Indonesia! Indonesia! Indonesia!"
Radio, televisi dan koran-koran begitu hangat membincangkan kemenangan atau menganalisa dengan serius sudut-sudut yang menyebabkan kekalahan. "Berjuanglah sampai tetes darah penghabisan, kami berdiri mendukungmu di sini," suara seorang pendengar radio mengutarakan pendapatnya.
"Kibarkan Merah Putih di tiang tertinggi," suara pendengar yang lain.
Begitu besar cinta mereka pada Indonesia, terpancar dari kata, nada dan getar suara. Tapi apakah Indonesia, tepatnya pemerintah Indonesia, juga memiliki cinta yang sama besar pada rakyatnya ?!???
Ditengah-tengah lapangan badminton, Wakil Presiden Jusuf Kalla berkata, "yang menolak kenaikan BBM justru menguntungkan orang kaya". Tentu saja logika Wapres benar, sebab pengguna BBM bersubsidi 80% adalah orang-orang mampu. Tapi Wapres juga salah, sebab orang-orang tak mampu juga tercekik lehernya dengan kenaikan seluruh bahan dasar akibat efek domino kenaikan harga BBM.Tidakkah pemerintah Indonesia mencintai rakyatnya, seperti cinta rakyat pada negara ini ?!
Sejauh ini berhadapan dengan pemerintah, seolah-olah rakyat sedang berhadapan dengan para pedagang. Pemerintah dan rakyat seolah-olah sedang bertransaksi, dan tentu saja pemerintah tak mau rugi.
Nasionalisme rakyat tak terbalas dengan cinta dalam wujud keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Benar-benar seperti behadapan dengan pedagang, yang hanya mengerti satu bahasa, rugi atau laba. Dan pemerintah hari ini tidak sedang ingin mencari rugi. Karena itu dicabutlah subsidi dengan segudang alasan; APBN, harga minyak dunia, penyelamatan negara, dan lain sebagainya.
Tapi intinya hanya satu, bagaimana negara tak rugi melawan rakyat sendiri !?
dikutip dari majalah Islam Sabili






0 komentar:
Posting Komentar