Sebelum menelurusi.. eh.. cuih.. menelusuri lebih jauh tentang Kebangkitan Nasional, ada baiknya juga kita mengenal dulu Sejarah Kebangkitan Nasional . . .Pada 20 Mei 1908 murid-murid STOVIA, OSVIA, Sekolah Guru, Sekolah Pertanian, dan Sekolah Kedokteran Hewan mengadakan pertemuan di Jakarta. Pertemuan inilah yang melahirkan organisasi Budi Utomo. Lalu apakah kelahiran BU ini otomatis menandakan Kebangkitan Nasional??? Eit... Ntar dulu! ^_^
Bahasa Melayu
Budi Utomo tak lebih dari sebuah organisasi kesukuan, bukan kebangsaan. Anggotanya saja, khusus orang-orang Jawa. Suku non-Jawa, tidak boleh masuk BU. Bahasanya pun bahasa Jawa, padahal saat itu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antarseluruh komponen bangsa du Nusantara adalah bahasa Melayu, cikal-bakal bahasa Indonesia.
Sejak lahirnya, hingga 31 tahun kemudian, BU tidak pernah mau mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Organisasi ini sangat ekslusif dan tidak mau menerima anggota dari luar Jawa, malah pengennya bahasa Jawa atau bahasa Belanda sebagai bahasa nasional.
Masalah ini membuat kesal beberapa tokoh pejuang nasional pada waktu itu dan menganggap bahwa gerakan Budi Utomo adalah gerakan kebudayaan kejawen tulen yang menafikan peranan pemuda dari luar Jawa. Java sentris sangat kental dalam tubuh BU.
Lalu gimana bisa mengklaim bahwa organisasi ini merupakan awal kebangkitan nasional???
Di sinilah terjadinya pemutarbalikan sejarah. Antara fakta dan mitos campur aduk jadi satu.
Menurut sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, DR Nina Lubis, sejarah menyangkut fakta. Sedangkan mitos berhubungan pemberian makna suatu fakta dalam upaya memberikan ketenangan, membangkitkan semangat, kepercayaan, atau memberikan jawaban kepada masyarakat.
Nah, di sinilah pentingnya kita mengkaji ulang fakta sejarah yang ada. Budi Utomo itu adalah organisasi atau kumpulan para priyayi, dengan fokus perhatian pada masalah pendidikan dan kebudayaan, bukan mempersiapkan kebangkitan nasional untuk menyongsong kemerdekaan.
Pada kongres tahun 1908 di Yogyakarta, muncul dr Tjipto Mangunkusumo yang menginginkan BU menjadi partai politik yang beranggotakan seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia, bukan hanya priyayi Jawa. Namun, keinginan Tjipto ini kandas. BU tetap didominasi para priyayi, hingga akhirnya dia mengundurkan diri setahun kemudian.
Memang, BU tak lebih dari organisasi priyayi yang tidak banyak memainkan peran politik aktif. Padahal, berjuang atau perang merebut kemerdekaan adalah bagian dari strategi politik. Hingga bubarnya di tahun 1935, BU malah menampakkan diri sebagai partai resmi pemerintah kolonial Belanda.
Wallahu 'alam
sumber majalah islam Sabili
Lihat juga di sini : Cinta Pemerintah pada Rakyat
Bagaimana Ceritanya Kelahiran BU Dianggap Sebagai Kebangkitan Nasional?
Memang, BU tak lebih dari organisasi priyayi yang tidak banyak memainkan peran politik aktif. Padahal, berjuang atau perang merebut kemerdekaan adalah bagian dari strategi politik. Hingga bubarnya di tahun 1935, BU malah menampakkan diri sebagai partai resmi pemerintah kolonial Belanda.
Wallahu 'alam
sumber majalah islam Sabili
Lihat juga di sini : Cinta Pemerintah pada Rakyat
Bagaimana Ceritanya Kelahiran BU Dianggap Sebagai Kebangkitan Nasional?







0 komentar:
Posting Komentar